Mengenal Garbarata Bandara

Pertanyaan ini ditujukan bagi Anda yang baru pertama kali bepergian menggunakan pesawat, sudahkah Anda menggunakan garbarata? Bila Anda bergumam seraya memikirkan apa itu garbarata, bisa jadi Anda belum menyadari makhluk apa garbarata itu. Ok, tidak apa-apa, postingan kali ini, kita akan coba mengenal garbarata bandara.

Nah, bagi Anda yang sering bepergian menggunakan pesawat, saya yakin Anda pernah menggunakan garbarata. Jangan, jangan sampai Anda tidak menyadarinya juga yah, heheheā€¦

Ok, kita mulai.

Singkat cerita, Anda sudah di bandara, sudah melalui sejumlah pintu pemeriksaan, dan tidak lama berselang panggilan boarding terdengar. Petugas ground handling pun sudah memanggil calon penumpang, seraya mengarahkan para calon penumpang menuju pintu keberangkatan.

Hampir di setiap bandara di Indonesia, baik untuk naik maupun turun dari pesawat disediakan garbarata dan bus pengangkut. Ada ketentuan atau peraturan yang berlaku di tiap-tiap bandara menyangkut penggunaan dua fasilitas ini.

Baca juga: Menit Dalam Penerbangan Yang Harus Anda Perhatikan 

Jelas, jika pesawat terparkir atau diatur untuk parkir di suatu lokasi parkir tertentu, misal ternyata parkirnya tidak jauh dari gate, maka sangat dimungkinkan untuk menggunakan garbarata sebagai akses penumpang masuk ke pesawat atau turun dari pesawat menuju bangunan bandara.

Penggunaan fasilitas ini disesuaikan pula antara tipe atau jenis pesawat dengan tipe garbaratanya.

Namun, bila ternyata pesawat parkir lebih dari 200 meter dari gate, maka pihak maskapai akan menyediakan bus pengangkut untuk mengantarkan penumpang menuju pesawat atau sebaliknya mengantar penumpang turun pesawat menuju gedung bandara.

Hal tersebut berlaku kebalikan bergantung pada kondisi bandara tujuan maupun bandara keberangkatan, yang telah diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 185 Tahun 2015.

Sampai sini jelas yah? Kalau sudah jelas, kita lanjut ke definisi garbarata, sejarah garbarata itu sendiri dan perkembangan garbarata saat ini.

Baca juga: Penggunaan Travelator Di Bandara

Garbarata Adalah

garbarata bandara

Garbarata Bandara, atau disebut juga dengan Avio Bridge, Passengger Boarding Bridge atau terkadang disebut juga tangga belalai, yaitu jembatan berdinding dan beratap yang menghubungkan ruang tunggu penumpang menuju ke pintu pesawat terbang.

Hal tersebut untuk memudahkan penumpang masuk ke dalam atau keluar dari pesawat, tergantung pada desain bangunan, ketinggian, posisi, dan persyaratan operasional, yang dibuat menetap ataupun bergerak, memanjang atau memendek sesuai kebutuhan operasional antara posisi pesawat dengan gedung.

Baca juga: Mau Tiket Pesawat Murah? Ini Cara Dapatkannya

Sejarah Garbarata

Garbarata pesawat diciptakan oleh Frank Der Yuen, dan pertama kali digunakan pada tanggal 26 Juli 1959 di Bandara Internasional San Fransisco.

Di Indonesia sendiri, penyebutan garbarata diperkirakan diambil dari Bahasa Sansakerta, yang merupakan gabungan dari dua kata, masing-masing garba yang artinya rahim, perut atau wadah, dan ratha yang artinya kereta.

Kedua kata tersebut juga ditemukan dalam kamus Bahasa Kawi dengan makna yang sama dengan Bahasa Sankakerta.

Sementara merujuk pada Bahasa Jawa, kata garba selain bermakna perut, juga bermakna menggandeng atau menyambung.

Kata garbarata telah disebutkan pada buku Pengindonesiaan Kata dan Ungkapan Asing yang diterbitkan tahun 2003 oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Baca juga: Tips Traveling Murah ke Korea Tanpa Ikut Paket Tour Wisata

Produsen Garbarata

bukaka garbarata

Produsen garbarata di dunia hanya ada 5, yaitu Bukaka asal Indonesia, ThyssenKrupp asal Jerman, CIMC-TiandDa asal China, Mitsubishi dan ShinMaywa keduanya berasal dari Jepang.

Saat ini, garbarata merupakan salah satu produksi andalan PT Bukaka Teknik Utama, dari Kalla Group, yang telah menguasai 40% pasar Asia, dan telah mampu mengekspor ke 13 negara, mengungguli produsen garbarata asal China.

Tujuan ekspor terbesar garbarata Indonesia diantaranya ke India sebanyak 120 unit, Jepang sebanyak 98 unit, dan Hongkong sebanyak 94 unit. Di Indonesia sendiri semua bandara menggunakan garbarata produsen yang bermarkas di Cileungsi Bogor.

Bukaka sendiri telah memproduksi garbarata sejak tahun 1989, dan mampu bertahan dan menjadi satu-satunya perusahaan produsen garbarata di Indonesia berkat penggunaan komponen-komponen berkualitas yang diproduksi oleh tenaga terampil dalam negeri.

Baca juga: Beli Tiket Online Pastikan Untuk Check In

Selain menggunakan komponen berkualitas, garbarata produksi Bukaka mampu memenuhi standar industri Aviasi yang ditetapkan oleh Konsultan Internasional dan para otoritas bandara hingga di ekspor pertama kali ke Jepang pada tahun 1991, dan berlanjut ke negara-negara lain.

Menurut catatan yang ada, hingga saat ini, Bukaka telah memproduksi lebih dari 700 unit boarding bridge dan telah mengekspor lebih dari 474 unit garbarata ke banyak negara, seperti Jepang, Thailand, Hongkong, China, India, Malaysia, Chili, Bangladesh, Myanmar, Brunei, dan Singapura.

Harga Garbarata

Tahukah Anda berapa harga satu unit garbarata? Ternyata harga satu unit garbarata ada yang seharga Rp 5 miliar, dan ada juga yang seharga Rp 8 miliar, bergantung pada jenis, ukuran, dan tipe garbarata.

Ada dua tipe garbarata yang diproduksi oleh Bukaka, yaitu yang disebut Tunnel Glass, dan satunya lagi Tunnel Steel.

Dengan kapasitas produksi normal yang mencapai 70 unit setahun, paling tidak dalam setahun Bukaka mengantongi sebanyak Rp 350 miliar sampai dengan Rp 550 miliar dari penjualan unit garbarata.

Baca juga: Mau Jalan Jalan Ke Bali? Kenapa Tidak Pilih Jalan Jalan Ke Bali Saja

Harga Sewa Garbarata

Jika tadi kita bahas tentang harga satu unit garbarata, maka disini kita akan bahas tentang harga sewa garbarata yang digunakan oleh pihak maskapai.

Berdasarkan info dari Angkasa Pura 2, pada kolom Jasa Kebandarudaraan, tarif sewa garbarata untuk penerbangan domestik, khususnya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, untuk pesawat dengan bobot antara 0-100 ton dikenakan biaya Rp 75 ribu per pemakaian.

Sementara tarif pemakaian garbarata untuk pesawat dengan bobot diatas 100 sampai dengan 200 ton dikenakan biaya Rp 188.250, diatas 200 sampai dengan 300 ton Rp 315.500, dan diatas 300 ton dikenakan biaya Rp 353 ribu per pemakaian garbarata.

Sedangkan untuk penerbangan internasional, tarif sewa garbarata per pemakaian untuk pesawat dengan bobot 0-100 ton dikenakan biaya USD 37, diatas 100 sampai dengan 200 ton dikenakan biaya USD 93, lalu diatas 200 sampai dengan 300 ton dikenakan biaya USD 155, dan diatas 300 ton dikenakan biaya sebesar USD 175.

Baca juga: Lokasi Parkir Inap Bandara Soekarno Hatta

Bagaimana sekarang? Sudah jelas dong, tidak hanya apa itu garbarata, tapi juga kita telah sama-sama mengulas tentang sejarah garbarata, produsen garbarata, harga garbarata, dan bahkan harga sewa garbarata bandara.

Ok, terima kasih sudah berkunjung dan membaca postingan ini, dan jika Anda menginginkan artikel lainnya dihadirkan di Travel Info, silahkan beri masukan di kolom komentar.

Nantikan postingan-postingan lainnya di Travel Info. Salam.(ti-id)

Sumber : Wikipedia, Angkasa Pura, Bukaka

0 thoughts on “Mengenal Garbarata Bandara”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.