Menapaki Gunung Rinjani Lombok

gunung rinjaniHampir setiap pendaki gunung atau penggiat wisata alam bebas mengenal yang namanya Gunung Rinjani. Sebuah gunung dengan ketinggian 3.726 meter diatas permukaan laut (Mdpl), yang berada di Pulau Nusa Tenggara Barat.

Tulisan ini menjadi episode pertama perjalanan saya dan teman-teman menjejakkan kaki di bumi Rinjani.

Ok, kita mulai.

Umumnya pendaki gunung bercita-cita untuk menjejakkan kaki di gunung tertinggi yang ada di suatu pulau untuk ukuran Indonesia, atau benua untuk ukuran dunia.

Makanya, kadang kita mengenal istilah Seven Summits atau 7 puncak tertinggi. Untuk ukuran dunia, 7 summits terdiri dari, Everest 8.848 Mdpl (Asia), Kilimanjaro 5.895 Mdpl (Afrika), Aconcagua 6.961 Mdpl (Amerika Selatan), Denali 6.194 Mdpl (Amerika Utara), Elbrus 5.642 Mdpl (Eropa), Vinson Massif 4.892 Mdpl (Antartika), Carstensz Pyramid 4.884 Mdpl (Oceania).

Untuk ukuran Indonesia, 7 summits terdiri dari, Carstensz Pyramid 4.884 Mdpl (Papua), Kerinci 3.805 Mdpl (Sumatera), Rinjani 3.726 Mdpl (Nusa Tenggara), Semeru 3.676 Mdpl (Jawa), Binaiya 3.027 Mdpl (Kepulauan Maluku), Latimojong 3.430 Mdpl (Sulawesi), Bukit Raya 2.278 Mdpl (Kalimantan).

Baca juga: 10 Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Perjalanan Pertama Kali Anda Ke Luar Negeri

Kembali ke laptop.

Tanggal 10 Mei 2017

Tanggal ini menjadi awal perjalanan kami ke Gunung Rinjani. Perjalanan diawali dari Bandara Halim Perdana Kusuma dengan menumpang pesawat Batik Air dengan waktu keberangkatan pukul 18.50 WIB, dan tiba di Bandara Praya Lombok 21.30 WITA.

Untuk pendakian ini kami bergabung dengan beberapa kelompok maupun perorangan dari berbagai penjuru Indonesia dibawah agen pendakian Insta Pendaki.

Karena alasan menunggu kelompok yang baru akan tiba besok pagi, maka kami diminta oleh agen pendakian untuk tidak jauh dari bandara, karena akan dijemput oleh agen pendaki esok pagi. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan terpaksa kami menginap di hotel bandara, alias musholla bandara, hehehe.

Baca juga: Paspor Indonesia Kini Tembus 72 Negara Tanpa Perlu Visa

Tanggal 11 Mei 2017

Setelah semua kelompok pendaki maupun perorangan tiba dan berkumpul di area Bandara Praya Lombok, Insta Pendaki yang sudah menunggu untuk menjemput kami memulai perjalanan pada pukul 09.30 WITA, dan selanjutnya mengajak kami makan siang di Nasi Balap Puyung “Rinjani” Cabang Mataram, yang lokasinya tidak jauh dari bandara.

Setelah bersantap dan mendapat pengarahan, perjalanan pun dilanjutkan kembali pada pukul 11.00 WITA menuju Desa Sembalun. Perjalanan akan memakan waktu kurang lebih 3 sampai 4 jam.

Dalam perjalanan kami sempat mampir di Taman Wisata Pusuk Sembalun, sekitar pukul 13.30 WITA. Tidak berlama-lama disini, kami pun kembali melanjutkan perjalanan menuju Desa Sembalun.

Sekitar pukul 15.00 WITA, kami tiba di Desa Sembalun yang merupakan salah satu jalur pendakian menuju Puncak Rinjani selain jalur Senaru dan Torean. Agen pendakian kami pun telah melaporkan kepada petugas di Desa Sembalun mengenai jumlah keseluruhan tim kami.

Baca juga: Beli Tiket Online Pastikan Untuk Check-In

Setelah melakukan segala persiapan, dan dengan diiringi doa, kami pun mulai menapaki tapak demi tapak Gunung Rinjani, dimulai dari Basecamp Sembalun pada sekitar pukul 15.30 WITA, dengan ketinggian 1.156 Mdpl.

Di jalur yang kami lalui, terhampar perkebunan milik warga dan padang savana. Di jalur ini, salah satu personil pendakian kami, yang berasal dari Yogyakarta, terkilir kakinya. Awalnya sempat dipaksakan, namun karena cederanya tetap tidak bersahabat, personil ini akhirnya membatalkan pendakiannya. Sejurus kemudian, sudah ada motor yang menjemput untuk mengevakuasi.

Dalam hati sempat tertawa, pasalnya, untuk sampai pada titik ini yang sudah dengan tergopoh-gopoh kami lalui, maklum persiapan fisik kami sangat seadanya, tiba-tiba saja ada motor yang datang, entah lewat jalur mana. Pikir kami, kenapa kami tidak menumpang motor saja untuk sampai titik ini, lumayan kan, menghemat waktu dan tenaga, hehehe.

Setelah beristirahat sejenak sembari mencicipi bekal ransum kami, kami pun melanjutkan perjalanan pendakian kami. Di tengah perjalanan, di tempat beralaskan ilalang yang sudah mengering, untuk ber-Ashar sejenak, seraya memanjatkan doa agar perjalanan kami senantiasa dalam lindungan-Nya.

Baca juga: Menyiasati Dollar Tinggi Agar Liburan Keluar Negeri Tetap Jalan

rinjani lombokRatusan dan mungkin ribuan tapak mengantarkan kami untuk akhirnya tiba di Pos I atau Pos Pemantauan, waktu itu sekitar pukul 17.50 WITA. Namun, bukan persis di Pos ini kami bermalam, melainkan masih sekitar setengah jam perjalanan dari Pos I, dan kami pun kembali menapaki bumi Rinjani menuju persinggahan malam kami.

Ditemani oleh mulai gelapnya malam, akhirnya tibalah kami di tenda yang sudah disiapkan oleh tim Insta Pendaki. Makan malam, dilanjut sruput kopi dan ransum menemani peraduan kami di suhu udara malam itu yang sangat khas gunung, dingin. Satu persatu personil tim pendakian kami masuk ke tenda untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk lanjut lagi esok pagi.

Ok, sampai disini dulu episode pertama perjalanan pendakian kami menapaki Gunung Rinjani. Tunggu kami di artikel berikutnya.(ti-id)

One thought on “Menapaki Gunung Rinjani Lombok”

  1. Your sister says:

    WHew… kenapa harus partially separate?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.