Family Trip Ke Dieng Sebuah Negeri Diatas Awan

Siapa yang tidak kenal Dieng, sebuah daerah dataran tinggi dan salah satu obyek wisata di Provinsi Jawa Tengah, yang dikenal pula dengan sebutan “Negeri Diatas Awan”. Nah, dalam postingan kali ini, kami akan mengupas cerita family trip ke Dieng beberapa waktu lalu.

Pada libur panjang akhir Oktober 2020 yang lalu, bertepatan dengan cuti bersama peringatan maulid Nabi Besar Muhammad SAW, kami berkesempatan untuk mencicipi salah satu destinasi wisata andalan Provinsi Jawa Tengah ini.

Secara administrasi, Dataran Tinggi Dieng berada dalam 3 wilayah kabupaten, masing-masing Kabupaten Banjarnegara (Kecamatan Batur dan sebagian Kecamatan Pejawaran), Kabupaten Wonosobo (Kecamatan Kejajar), dan Kabupaten Batang (bagian selatan dari Desa Pranten, Bawang).

Sedangkan, inti atau pusat kawasan wisata berada pada wilayah Desa Dieng Kulon (Kabupaten Banjarnegara) dan Desa Dieng atau merupakan Dieng Wetan (Kabupaten Wonosobo).

Ketinggian Dataran Tinggi Dieng berada pada 1.600 sampai 2.100 meter dari permukaan laut dengan suhu udara berkisar 12–20 °C di siang hari dan 6–10 °C di malam hari, dan pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara dapat mencapai 0 °C di pagi hari.

Perjalanan Bekasi – Wonosobo

Berangkat dengan memasuki Gerbang Tol Grand Wisata pada pukul 9 pagi, perjalanan menurut hasil cek Google Map akan keluar di Gerbang Tol Weleri Batang dengan memakan waktu sekitar 7 jam. Rute ini menjadi jalan tercepat menuju Dieng, dibandingkan jika melewati jalur tengah yang bisa memakan waktu 10 jam.

Perjalanan waktu itu agak tersendat di Tol Cikampek karena terjadinya peningkatan volume kendaraan dampak libur panjang, dan baru terlihat mencair saat memasuki KM 66, saat volume kendaraan terbagi rata antara kendaraan yang menuju Jawa Tengah maupun yang menuju ke arah Bandung dan sekitarnya.

Sempat tersendat ditambah beberapa kali isitirahat, akhirnya kami baru keluar di Gerbang Tol Weleri Batang sekitar pukul 4 sore. Dari Gerbang Tol Weleri Batang hingga Wonosobo menurut Google Map akan memakan waktu kurang lebih 3 jam dengan melintas di Jl Parakan – Sukorejo, Jl Candiroto – Ngadirejo, Nglaruk, Jl Tambi, Jl Dieng – Wonosobo.

Secara umum, jalan dalam kondisi baik untuk dilalui, namun perlu diwaspadai saat memasuki Jl Tambi, karena rute ini memiliki kondisi jalan yang cukup sempit, menanjak, curam, dan cukup berdebu karena merupakan akses jalan hasil pertanian, belum lagi bila turun kabut.

Saat kami melintas disini, yaitu sekitar pukul setengah 6 sore, suasana cukup mencekam, pasalnya sudah tidak banyak kendaraan, hanya satu dua saja yang melintas baik mobil maupun motor, ditambah lagi hari sudah memasuki senja, disebuah jalan sempit yang diselimuti debu, maupun kabut, belum lagi menanjak curam, menurun curam, berbelok patah sambil menanjak maupun menurun.

Maka, bila Anda dapat tiba di Jl Tambi sekitar pukul 3 sore, dan apalagi bila Anda pergi secara rombongan lebih dari satu mobil, tentu itu akan membuat perjalanan menjadi sedikit nyaman. Pasalnya, saat di Jl Tambi ini kami mendapati sebuah mobil yang tergolong keluaran baru sedang mogok, yang mungkin diakibatkan terjadinya over heating.

Selepas Jl Tambi, malam itu sekitar pukul 6.40 malam, kami masih harus turun kurang lebih 30 menit menuju lokasi hotel yang berada di ibu kota Kabupaten Wonosobo, atau arah turun bila dari arah Dieng Plateau.

Bermalam di Wonosobo Kota

Tepat jam 7.30 malam, tibalah kami di hotel tempat kami menginap, Hotel Sentro, hotel berlabel RedDoorz near Alun-Alun Wonosobo, yang telah kami booking sejak beberapa hari sebelumnya via Pegipegi. Hotel itu menjadi hotel yang tersisa dalam listing Pegipegi, bersama dengan deretan guest house atau homestay.

Saat kami parkirkan kendaraan di area parkir yang berada ditengah-tengah hotel, kami lihat bangunan hotel 2 lantai itu lebih nampak seperti kost-kostan dimana kamar-kamarnya menghadap ke area parkir, ditambah para tamu hotel yang nampak duduk-duduk di teras kamar, membuat suasana hotel malam itu cukup ramai, sepertinya ada rombongan motor touring yang sedang menginap juga.

Kami pun check-in, dan kemudian langsung menuju kamar di lantai 2. Sesampainya di kamar, saya perhatikan wajah istri dan anak-anak satu persatu, dari raut wajahnya terpancar kekecewaan atas apa yang ada di depan matanya, membayangkan bagaimana menebus rasa lelah perjalanan bila berada di dalam kamar yang menurut mereka kurang cocok, karena terbilang sempit, dan tanpa AC pula.

Tidak ingin kekecewaannya berlarut, saya pun bergegas mencari petunjuk mengenai hotel-hotel terdekat dengan bantuan google, sambil berharap masih ada satu kamar tersisa yang bisa kami jadikan penawar rasa lelah kami.

Ya maklum saja, hotel-hotel lumayan saat itu sudah diserbu oleh wisatawan yang ingin menghabiskan waktu libur panjangnya. Setelahnya, satu persatu hotel kami hubungi via telepon.

Yang pertama, hotel Surya Asia, secara kebetulan lokasinya bersebelahan dengan hotel yang sudah kami booking tadi. Lantas kami pun meneleponnya, dan kami dapati masih ada satu kamar tersisa.

Belum puas dengan pencapaian tersebut, kami masih mencoba meng-googling kembali untuk mendapatkan hotel yang paling cocok dengan keinginan kami, dan kemudian kami dapati beberapa hotel lainnya melalui link di Booking.com, salah satunya hotel Dafam, dan yang lainnya yaitu hotel Kresna.

Kedua hotel tersebut tidak kami dapati di 2 OTA yang biasa kami gunakan, baik Traveloka maupun Pegipegi, hingga pada akhirnya kami memilih hotel Sentro sebagai daftar yang tersisa di Pegipegi untuk kami menginap 2 malam di Wonosobo.

Entah, apakah maksudnya pihak hotel-hotel membatasi kamar tersisa dari kedua OTA tersebut, dan memberi lebih pada OTA lainnya, atau memang kerja samanya yang minim, entahlah.

Kembali lagi ke pemilihan hotel, untuk diketahui hal ini sebenarnya belum pernah kami lakukan sebelumnya, mencari hotel lain saat kami tinggal check-in. Kami selalu mendapati hotel yang sesuai dengan yang biasa kami inginkan. Namun memang tidak dengan hotel Sentro tersebut.

Saat kami cari kembali hotel berdasarkan petunjuk google.com, link hotel Dafam muncul, namun sayangnya, untuk malam itu sudah tidak ada kamar tersisa. Kami cari kembali, dan kami dapati hotel Kresna, dan ternyata masih ada kamar tersisa.

Singkat cerita, tibalah kami di hotel Kresna, dan mencari parkir kendaraan. Suasana parkir malam itu penuh dengan rombongan touring Pajero Sport, nampaknya dari Jawa Timur. Hotel ini sangat besar, dan dilihat dari bangunannya merupakan salah satu hotel legenda di Wonosobo. Bangunannya besar, parkir pun luas.

hotel-kresna-wonosobo-dieng-at-the-pool

Setelah memarkirkan kendaraan, lantas kami pun check-in malam itu juga, dan setelahnya bergegas ke kamar kami di lantai 2.

Alhamdulillah, malam itu kami dapat beristirahat melepas lelah perjalanan diselimuti udara dingin di dalam kamar yang mungkin bersuhu 21 derajat Celcius tanpa ditemani AC, melainkan AC alam.

Ya, Wonosobo memang daerah dingin karena berada di datara tinggi, sehingga memiliki level udara sejuk ke dingin.

Kawasan Wisata Dieng

Pagi itu kami bangun setelah lelah kami tertebus, masih ditengah semilir udara dingin yang menyelinap melalui sekat jendela kamar. Kami pun bergegas mandi lalu kemudian bersiap diri dan setelahnya menuju resto untuk breakfast pada pukul 8 pagi.

Pukul 9 pagi kami merencanakan menuju Dieng, dengan estimasi waktu perjalanan memakan waktu kurang dari 1 jam.

Saat brekfast, saya minta istri untuk mengajukan extend kamar, dari satu malam menjadi 2 malam, yang sebelumnya sudah ditawarkan oleh petugas hotel, namun memang belum sempat kami respon.

Agak terkejut saat istri menyampaikan kepada saya bahwa permintaan kami untuk extend di kamar yang sama tidak dapat dipenuhi pihak hotel, dengan alasan kamar sudah terlanjut di booking oleh tamu berikutnya.

Selepas breakfast saya temui resepsionis, dan saya tanyakan mengapa permintaan kami tidak dapat dipenuhi. Pihak hotel pun masih mengatakan alasan yang sama. Namun dengan sedikit negosiasi pada akhirnya permintaan kami dipenuhi juga oleh pihak hotel.

welcome-to-dieng

Agak telat dari yang kami rencanakan, kami berangkat dari hotel menuju Dieng pada pukul 9.30, dan tiba di kawasan Dieng sekitar pukul 10.15.Kami pun menyempatkan diri untuk berfoto di ikonik Dieng tersebut.

Welcome to DIENG!!

Dieng Plateau

Lokasi yang akan kami kunjungi yaitu kawasan Candi Dieng Plateau. Kami pun sempat tersasar ke lokasi Telaga Merdada karena memang ini adalah kali pertama kami berwisata ke Dieng.

Setelah bertanya pada salah seorang petugas di pintu masuk Telaga Merdada kami pun berputar arah menuju lokasi yang diarahkan olehnya.

Tiba di kawasan Candi Dieng Plateau, kami memarkirkan kendaraan di area parkir yang cukup luas. Pengalaman pertama tersasar seperti itu, membuat kami berpikir untuk menyewa Jeep saja bila memang ada. Maksudnya tidak lain adalah agar wisata kami di Dieng dapat berjalan efisien dan efektif.

Kami pun menanyakan pada salah seorang petugas parkir, dan di dapat informasi bahwa bila memang berminat dapat dibantu untuk mencarikan Jeep. Kami pun mencari tahu mengenai tarifnya, dan disampaikan bahwa ada 2 kategori wisata dengan Jeep, yakni Rp 400 ribu untuk trip A, kami menyimpulkannya sebagai lokasi yang dekat.

Sedangkan yang satunya lagi trip B, kami juga menyimpulkannya sebagai lokasi yang jauh, atau ada beberapa lokasi yang dikunjungi, termasuk lokasi wisata yang memiliki spot foto Instagramable dengan tarif awal disampaikan Rp 600 ribu.

Tidak ingin kehilangan momen di trip ke Dieng kami, kami pun memilih trip B, dengan harapan dapat melihat lebih banyak lokasi wisata yang ada di Dieng.

Kami pun diminta untuk menunggu kedatangan Jeep penjemput. 15 menit berselang, bukan Jeep yang datang, tapi petugas lain yang datang dan mengkonfirmasi bahwa tarifnya Rp 700 ribu, dan bila berminat Jeep segera meluncur.

Tidak ada pilihan, karena waktu terus berjalan, kami baru pertama kali ke Dieng, sehingga tidak tahu lokasi mana saja yang harus kami sambangi. Akhirnya, kami pun menyepakati meskipun tarifnya berbeda dari yang disampaikan di awal.

Bintoro Mulyo

Lokasi pertama yang kami sambangi dalam trip kami ke Dieng, yakni Bintoro Mulyo, lokasinya lebih keatas, disertai tanjakan panjang, dan menurun panjang.

Di salah satu tanjakan panjang itulah Jeep yang kami tumpangi sempat mengalami mogok, dan saya terpaksa turun untuk mencari batu pengganjal, sambil Om Driver terus berupaya men-starter Jeep-nya.

Agak jauh berjalan, saya pun mendapatkan batu pengganjal, dan membawanya menuju Jeep. Alhamdulillah, belum sampai batu pengganjal itu digunakan, Jeep yang kami tumpangi sudah menyala kembali, dan kami pun melanjutkan perjalanan.

bintoro-mulyo-dieng

Pukul 11.10 kami tiba di daerah Bintoro Mulyo, tepatnya di salah satu spot foto Perahu Phinisi yang bila cuacanya cerah tidak berkabut akan tampak seperti sedang berada di lautan ombak, padahal aslinya awan. Namun sayangnya, saat kami berada di lokasi, cuaca sedang berkabut.

Merasa cukup menikmati spot foto di Bintoro, kami pun bergeser ke spot berikutnya, yakni Kawah Sileri.

Kawah Sileri

Pukul 12.00 kami tiba di Kawah Sileri, sebuah kawah di Dataran Tinggi Dieng yang paling aktif. Saking aktifnya, kawah ini telah beberapa kali meletus.

Sebenarnya, di lokasi ini dimungkinkan bagi para wisatawan untuk mengabadikan diri dari jarak dekat dan bahkan hingga ke bibir kawah, meski untuk itu kita harus hati-hati dan mengukur diri serta menjaga jarak yang aman.

kawah-sileri-dieng

Untuk kami sendiri, selain karena memiliki waktu yang terbatas, kami tidak turun ke bibir bawah, melainkan hanya berfoto di gapura yang bertuliskan Kawah Sileri.

Namun bila Anda berkesempatan kesini, dan memiliki waktu yang agak longgar, maka turun hingga ke bibir kawah dijamin akan mendapatkan suasana yang lebih dramatis, dan tentu saja mendapatkan pengalaman ke kawah paling aktif di Dataran Tinggi Dieng.

Selepas dari Kawah Sileri, kami pun bergerak lagi menuju destinasi berikutnya, yakni Kawah Candradimuka.

Kawah Candradimuka

Berlokasi tidak jauh dari Kawah Sileri, kami tiba di lokasi Kawah Candradimuka pukul 12.45, sebuah kawah yang konon katanya menjadi tempat penggemblengan Raden Gatot Kaca hingga akhirnya dijuluki dengan Otot Kawat Tulang Besi.

kawah-candradimuka-dieng

Kami pun turun ke bibir kawah yang dipenuhi dengan asap belerang. Beruntungnya, kami hanya turun tidak lebih dari 10 meter dengan menapaki undakan tanah.

Saat dibawah, kami pun dipandu oleh petugas lokal, yang menjelaskan kepada kami tentang keberadaan sebuah mata air, dan tentu saja keberadaan kawah itu sendiri yang memiliki suhu panas 100 derajat Celcius.

Sumur Jalatunda

Next destinasi kami dalam trip ke Dieng yaitu Sumur Jalatunda, dan kami tiba di lokasi ini pada pukul 13.25. Suasana saat itu, meski di tengah libur panjang cuti bersama, namun memang tidak terlalu ramai pengunjung,

Yang unik dari tempat ini, Anda akan tertantang untuk terlibat dalam sebuah games. Ya games saya menyebutnya. Pasalnya, menurut hikayat Sumur Jalatunda membawa pesan bahwa setiap keinginan atau harapan jangan ditunda-tunda.

sumur-jalatunda-dieng

Untuk mengukur berhasil atau tidaknya keinginan dan harapan tersebut, Anda akan ditantang untuk melempar batu, seperti batu coral, ke arah sumur, seraya memanjatkan doa pada yang Maha Kuasa.

Ukuran keberhasilannya, untuk pria, bila batu yang dilempar mampu menyeberangi sumur atau menyentuh dinding seberang sumur, sedangkan untuk wanita,bila batu yang dilempar jatuh di tengah-tengah sumur.Setiap yang mencoba challenge ini akan diberi kesempatan untuk melempar 7 batu.

Saya pun memberanikan diri untuk mencoba tantangan ini. Namun, entah apakah ada hubungannya antara kemampuan fisik dalam melempar dengan dikabulkannya doa yang dipanjatkan pada yang Maha Kuasa, sebab tak satupun batu yang dilempar mampu menyentuh dinding seberang sumur.

Makan Siang Di Purasaba Café Hostel

Selepas Sumur Jalatunda, kami pun bergeser lagi menuju destinasi berikutnya. Ditengah perjalanan menuju destinasi berikutnya dalam trip kami ke Dieng, cuaca pun sedikit kurang bersahabat karena tiba-tiba gerimis disertai kabut pekat, kami pun sepakat untuk rehat sejenak sambil mengisi energi.

Oiya, kami tiba disini pukul 14.15, sebenarnya agak lewat dari jam makan siang. Namun menurut Om Driver, memang jarang restoran atau tempat makan yang cukup lumayan, kecuali warung-warung pinggir jalan.

purasaba-cafe-hostel-dieng

Kami pun mencari sedapatnya lokasi yang menurut kami cukup nyaman, dan secara kebetulan kami mendapati Purasaba Café Hostel, yakni sebuah Café yang terdapat pula Hostel didalamnya.

Cukup nyaman juga berada disini, selain Café nya bertema etnik, menu nya pun beragam ala-ala anak tongkrongan, mulai dari menu berat sampai ke yang ringan.

Kurang lebih satu jam kami disini, untuk kemudian melanjutkan lagi perjalanan menuju destinasi berikutnya, yakni Batu Pandang Ratapan Angin.

Batu Pandang Ratapan Angin

Destinasi berikutnya dari trip kami ke Dieng yaitu Batu Pandang Ratapan Angin. Kami tiba di lokasi pada pukul 15.20. Di lokasi ini banyak memiliki spot foto yang menarik terutama pemandangan dari ketinggian di atas bukit dengan latar Telaga Warna.

batu-pandang-ratapan-angin-from-tower

Batu Pandang Ratapan Angin merupakan salah satu destinasi di Dieng yang dikunjungi banyak wisatawan, tentu saja karena memiliki banyak spot foto Instagramable, alias kekinian.

Selain itu, Batu Pandang Ratapan Angin dipandang dari sudut kesiapan menjadi destinasi wisata, jelas sangat siap, area parkir kendaraan yang tersedia cukup untuk menampung jumlah kendaraan wisatawan, tersedia mini-mini café atau warung kopi, tersedia toilet, mushola, dan yang pasti area untuk swafoto.

Di lokasi ini banyak sekali spot-spot foto yang berkonsep seperti menara yang sengaja dibuat untuk melihat pemandangan dari atas bukit dengan latar belakang Telaga Warna, maupun yang berupa undakan batu sehingga akan terkesan alami.

Batu Angkruk

Batu Angkruk menjadi destinasi terakhir dalam trip kami ke Dieng. Kami tiba di lokasi pukul 16.30, dan waktu berjalan cepat menjelang senja hari.

Sama-sama menyajikan pemadangan dari ketinggian atas bukit, namun dengan latar berupa liak-liuk jalan menuju Dieng, yakni Jl Dieng.

Yang membedakan lagi, meski sama-sama mengambil angle dari menara, maka dibanding yang lain, lokasi ini agak berbeda, terutama konstruksi menaranya yang berupa kaca transparan. Konstruksi kacanya mengadop beberapa tempat lain seperti di kawasan Punclut Bandung.

Sayang sekali, matahari senja saat itu seperti enggan menunjukkan batang hidungnya, dan terlalu asyik bersembunyi dibalik lapisan langit maupun awan pekat yang tidak memberikan kesempatan untuk keluar.

**

Penutup

Itulah Dieng, sebuah negeri di atas awan. Memang terlalu singkat dan terlalu terburu-buru rasanya trip ke Dieng kami kemarin yang mengejar 6 destinasi dalam satu hari. Mungkin agak lebih ideal bila itu dilakukan dalam 2 hari, atau lebih.

Beberapa catatan bila Anda ingin berlibur ke kawasan Dataran Tinggi Dieng, perhatikan kapan waktu Anda kesana?

Bulan Juni, Juli, Agustus adalah saat dimana Dieng menunjukkan dirinya sebagai negeri diatas awan, saat lautan awan bertaburan diatas bumi Dieng, dan saat dimana sedang dingin-dinginnya.

Dan bila berkesempatan ke Dieng pada Juni, Juli, Agustus maka jangan lupa membawa peralatan yang memadai, seperti jaket tebal atau sweater, siapkan pula penutup kepala atua kupluk, serta sarung tangan, karena biasanya, suhu udara di kawasan Dieng bisa mencapai minus derajat.

Artikel diatas hanya sebagian dari perjalanan kami, nantikan di artikel berikutnya, saat kami kembali dari Dieng hingga tiba dirumah.[ti-id]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.